Kamis, 25 November 2010

5 Langkah Latih Motorik Halus Bayi


Perkembangan kemampuan motorik anak dalam setahun pertama usianya memang sangat pesat dan terkesan tidak beraturan, namun sebenarnya hal ini terjadi berurutan. Perkembangan biasanya dimulai dari kepala hingga kaki. Bagian kepala dan lengan berkembang lebih dulu ketimbang kaki. Ada pula bayi yang bisa mengkontrol bagian tengah tubuhnya terlebih dulu baru ia bisa menggerakkan jari tangan dan kakinya sesuai perintah.

Berikut adalah beberapa titik penting perkembangan motorik anak dari kepala hingga jari kaki, serta saran untuk membantu perkembangan bayi:

1. Kendali kepala
Salah satu hal yang penting untuk diketahui orangtua baru adalah cara menyangga kepala bayi, karena bayi belum bisa menyangga kepalanya sendiri hingga usianya 3 bulan.
* Saat otot lehernya sudah menguat, ia akan bisa melakukan semacam push up kecil, dengan mengangkat kepala dan dadanya menjauh dari lantai atau kasur.
* Di usia sekitar 7 bulanan, si bayi akan sudah memiliki kontrol penuh terhadap lehernya, serta sudah bisa menjaga stabil dalam waktu cukup lama sambil duduk di pangkuan atau diangkat.

Tips melatihnya:
- Letakkan bayi sambil menelungkup di lantai. Lakukan ini beberapa kali dalam sehari.
- Pancing si bayi untuk mengangkat kepalanya. Letakkan kaca besar yang tak mudah pecah di hadapannya atau foto dirinya dalam ukuran besar di hadapannya, atau ikut menelungkup di hadapannya.

2. Menggapai dan menggenggam
Kebanyakan balita akan mulai melambai atau memukul benda di usia kisaran 3 bulan, dan reflek yang makin terbentuk.
- Di usia 5-6 bulan, anak Anda seharusnya sudah bisa memerhatikan suatu obyek dan mulai menggapainya.
- Di usia 8-9 bulan, saat bayi sudah belajar menggenggam dengan ibu jari dan jari telunjuk, ia sudah bisa mulai memungut benda-benda kecil, seperti remahan kue, dan barang-barang lain yang berceceran di lantai, seperti kotoran atau debu. Ia akan tergoda untuk mencicipi apa pun yang bisa ia pungut.

Tips melatihnya:
- Pasang tempat tidur gym untuk bayi. Ini akan membantu si anak untuk memukul obyek di atas kepalanya. Untuk keamanan, segera bongkar tempat tidur gym ini ketika si bayi sudah bisa duduk.
- Saat bayi telentang pada lantai, ayunkan obyek di atas kepalanya dengan jarak sekitar 3-8 inci agar ia bisa memukul benda tersebut.
- Untuk membantu bayi 4 bulan Anda menggenggam barang, berikan mainan bunyi-bunyian untuk digenggam. Barang-barang yang membuat bunyi-bunyian saat digoyang-goyangkan, atau memiliki tekstur untuk dikunyah, bisa membantunya berlatih menggenggam.
- Letakkan beberapa mainan dalam daya raihnya. Biarkan ia menggenggam barang-barang saat ia menelungkup di lantai.

3. Berguling
Dalam proses untuk mengkontrol kepalanya, memutar tubuh sendiri adalah sebuah titik penting yang ditunggu para orangtua.
- Di usia 5-6 bulan, bayi Anda akan bisa memutar tubuhnya ke satu arah, antara dari punggung ke perut, atau dari perut ke punggung.
- Kemungkinan, ia belum bisa kembali ke posisi semula setelah berhasil memutar sekali hingga usianya 7 bulanan.

Tips melatihnya:
- Berikan ruang yang cukup luas dan kesempatan untuk berlatih. Lantai adalah lokasi yang tepat untuk melatihnya.
- Puji si bayi, bicara padanya dan ajarkan terus saat ia berlatih memutar tubuhnya.
- Pegang barang yang menarik, seperti permainan bunyi-bunyian atau kaca bayi dekatnya. Ini akan menarik perhatiannya dan menggodanya untuk memutar tubuh untuk melihat.

4. Duduk
Saat bayi sudah bisa berguling, kemampuan untuk duduk adalah langkah berikutnya. Bayi memiliki cara pandang yang berbeda saat ia belajar duduk. Jadi, ini juga akan menjadi sebuah pengalaman baru untuk orangtua.
- Saat usianya sekitar 4 bulanan, bayi sudah bisa duduk ketika dibantu.
- Di usia 6 bulanan, bayi Anda kemungkinan sudah bisa duduk di bangku tinggi, dan kadang, beberapa bayi sudah bisa duduk sendiri sebelum ia berusia 1 tahun.

Tips melatihnya:
- Pangku si bayi sambil menghadap ke luar. Perut dan kaki Anda bisa menjadi sandarannya.
- Biarkan bayi duduk disanggah bantal berbentuk U.

5. Merangkak dan berjalan
Antara usia 8-13 bulan, bayi Anda akan mencapai sebuah proses belajar berjalan tersendat-sendat. Para orangtua seringkali melihat proses merangkak dan berjalan sebagai puncak pembelajaran anak. Namun perlu diingat, bahwa perkembangan setiap anak itu berbeda-beda. Konsultasikan dengan dokter anak jika Anda merasa si kecil belum bisa berjalan dengan baik pada usia yang seharusnya ia sudah bisa berjalan. Pola anak berjalan umumnya adalah:
- Pertama, ia akan belajar mengangkat tubuhnya dengan cara merangkak. Bertumpu pada tangan dan lututnya.
- Kemudian, ia akan mengayun tubuhnya ke depan dan ke belakang.
- Ia akan berusaha dalam beragam cara untuk bergerak, menggeliat, mendorong tubuh saat terduduk, bahkan bergerak seperti berenang di lantai.
- Setelah beberapa bulan, Anda akan melihat ia akan mulai belajar merangkak dengan benar.
- Tak semua bayi merangkak dengan cara yang sama. Faktanya, banyak pula anak yang tidak merangkak dan minta digenggam orangtua saat berjalan. Ada pula yang melakukan gaya jalan seperti beruang, dan banyak gaya lainnya. Apa pun gaya yang dipilih anak Anda, tahapan ini memberikannya kebebasan dan kesempatan untuk mengeksplorasi.

Tips melatihnya:
- Main "petak umpet". Ini menjadi permainan menyenangkan untuk bayi yang sedang belajar bergerak. Dekati si bayi sambil berkata, "Mama akan tangkap kamu..." Lalu merangkak menjauh, agar ia kembali mengejar. Cobalah bersembunyi di balik furnitur untuk "mencari" Anda.
- Ciptakan alur penuh rintangan. Isilah ruang mainnya di lantai dengan barang-barang yang bisa ia gunakan untuk merangkak naik, atau mengolong, namun pastikan keadaan aman untuknya.

*Sumber : kompas.com

Minggu, 21 November 2010

8 Kebutuhan Utama si Kecil Selain Makanan


Kebutuhan si kecil tidak hanya masalah makanan walaupun ini memang yang terpenting. Dari hasil penelitian ada 8 kebutuhan utama lain yang diinginkan oleh bayi dalam masa pertumbuhannya.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh bayi dalam masa pertumbuhannya adalah cinta, perhatian dan perawatan dasarnya.

Seperti dikutip dari Babycenter, Senin (22/11/2010) ada 8 langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu pertumbuhan si kecil, yaitu:

1. Tunjukkan cinta Anda
Anak-anak membutuhkan cinta, karenanya kepedulian dan dukungan emosional dari orangtua bisa memberikan anak rasa aman untuk menjelajahi dunia ini.

Sebuah bukti ilmiah menunjukkan bahwa cinta, perhatian dan kasih sayang pada tahun-tahun pertama kehidupan si kecil bisa berdampak langsung terhadap pertumbuhan fisik, mental dan emosional anak.

Marian Diamond, seorang ahli saraf dari University of California menuturkan cinta dan sentuhan bisa membuat otak anak tumbuh. Caranya bisa dengan memberikan pelukan, sentuhan, ciuman, senyum, mendengarkan dan bermain dengan si kecil kapan pun, sehingga membantu membangun kepercayaan dan ikatan emosional yang kuat.

2. Memberikan perawatan kebutuhan dasar anak
Kebutuhan dasar ini mencakup pemeriksaan kesehatan secara teratur, memberikan imunisasi sesuai waktunya, memberikan waktu tidur yang cukup (karena tidur yang baik dapat mambentuk sel-sel otak bayi membuat koneksi yang penting), serta memberikan ASI untuk buah hati.

ASI akan memberikan semua kebutuhkan nutrisi si kecil dan mencegah berbagai masalah kesehatan serta meningkatkan kecerdasan anak.

3. Berbicaralah dengan anak
Studi menunjukkan anak-anak yang sering diajak berbicara oleh orangtuanya akan memiliki IQ yang secara signifikan lebih tinggi dan kosakata yang lebih kaya karena mendapatkan banyak rangsangan verbal.

Nantinya anak akan mengembangkan keterampilan berbahasa yang baik, untuk itu berbicaralah dengan bahasa yang benar dan baik pada anak.

4. Mengajak anak membaca

Membaca dengan suara keras pada anak bisa membantu mengembangkan kosakata, merangsang imajinasi dan meningkatkan keterampilan membacanya. Bayi yang baru lahir akan sangat menikmati saat mendengarkan sebuah cerita, dan juga dapat menguatkan ikatan emosional.

5. Menstimulasi semua inderanya

Studi menunjukkan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang mana melibatkan inderanya, memiliki otak yang lebih besar dan lebih aktif.

Berikan anak mainan berbagai bentuk tekstur, warna, suara dan sentuhan. Tapi sebaiknya tidak membombardir anak terus menerus, cobalah memberikan secara bertahap hingga anak mengerti.

Selain itu berikan anak lagu dan musik favoritnya serta ruang yang aman untuk anak mengembangkan otot-ototnya, keseimbangan dan koordinasi. Jauhkan benda-benda berbahaya dari jangkauan bayi, serta tidak terlalu sering melarang anak.

6. Mendorong anak terhadap tantangan baru
Misalnya ketika anak sulit membuka sebuah kotak, maka biarkan ia mencobanya terlebih dahulu. Jika ia terus berjuang dan tidak berhasil, tunjukkan caranya. Lalu tutuplah kembali kotak tersebut dan biarkan anak mencobanya lagi sendiri.

7. Orangtua perlu menjaga dirinya sendiri
Orangtua yang mengalami depresi atau sedang marah cenderung sering tidak mampu merespons dengan cepat dan sensitif terhadap kebutuhan anak.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development and Psychopathology menemukan anak dengan ibu yang depresi kronis memiliki pola abnormal dalam aktivitas otaknya dan ikut depresi juga.

Jika merasa lelah, mintalah bantuan suami, keluarga atau dukungan dari orang-orang sekitar. Serta jangan lupa untuk meluangkan waktu bagi Anda sendiri agar bisa mengembalikan energi.

8. Carilah pengasuh yang baik
Jika orangtua bekerja dan tidak mampu merawat bayinya di siang hari, carilah pengasuh yang baik, berkualitas dan mengerti tentang perkembangan bayi yang sehat. Memilih keluarga atau orang terdekat bisa menjadi pilihan pertama sebelum menggunakan jasa pengasuh (babysitter).

*Sumber : detikhealth.com

Kamis, 18 November 2010

Mendandani Bayi, Jangan Asal Terlihat Lucu


Orang tua mana yang tak ingin melihat bayinya tampil menarik? Tetapi jangan asal keren lantas Anda melupakan faktor kemanan dan kenyamanan saat mendandani si kecil.

"Enak, ya, punya anak perempuan, bisa didandani macem-macem." Begitu, kan, komentar yang sering dilontarkan para ibu kepada ibu lain yang punya anak perempuan. Kita sendiri pun akan berpendapat demikian. Bukankah para ibu yang lebih suka berdandan? Apalagi, model busana anak perempuan pun beraneka ragam, tak seperti model busana anak lelaki. Belum lagi aksesorinya.

Padahal, yang namanya bayi, biar enggak didandani juga akan tetap menarik perhatian orang yang melihatnya. Baik bayi perempuan maupun bayi lelaki, mempunyai daya tarik tersendiri dibanding anak usia selanjutnya. Tentu boleh-boleh saja bila Anda ingin mendandani bayi Anda. Namun jangan sampai Anda melupakan faktor keamanan dan kenyamanannya.

Aman
Busana yang aman tentulah yang tak membahayakan bayi. Dalam kaitan ini, yang pertama harus Anda perhatikan adalah bahan busana. "Bahan yang mudah terbakar seperti nilon, sebaiknya dihindari," anjur dr Rini Sekartini, SpAK.

Yang kedua, aksesori. "Biasanya, busana untuk bayi perempuan banyak aksesorinya," lanjut dokter spesialis anak pada Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo ini. Misalnya, dihiasi dengan pernik-pernik kecil. Hati-hati, lo, aksesori tersebut bisa tertelan oleh si kecil.

Terakhir, warnanya jangan luntur. Jangan lupa, bayi pada umumnya sangat aktif bergerak ke sana ke mari sehingga sering berkeringat. "Nah, jika warna busananya luntur, bisa-bisa menempel di tubuh si bayi." Dampaknya akan lebih buruk lagi bila terkena pada bayi yang alergi karena akan timbul reaksinya. "Mungkin yang paling aman adalah gambar pada busana daripada warna busananya."

Nyaman
Faktor kenyamanan pada busana dilihat dari sirkulasi udaranya yang baik. "Bagian ketiak sebaiknya jangan terlalu ketat dan jangan pula terlalu longgar agar bayi jadi tak sering berkeringat," tutur Rini. Dari segi model pilihlah yang membuat bayi bisa leluasa bergerak. Jadi, bukan lantaran modis-tidaknya busana tersebut. Misalnya, rok span, "Hanya enak untuk dilihat namun akan menghambat gerak bayi."

Ingat, pada masa bayi yang utama adalah perkembangan motoriknya. Jadi, kalau busananya menghambat, tentu juga akan mempengaruhi geraknya, yang berarti pula menghambat perkembangan motoriknya. Celana merupakan alternatif pilihan busana yang tepat karena tak menghambat gerak. Namun jangan lupa perhatikan karet celananya, Bu. "Bila karet celananya keras, bisa berbekas di tubuh bayi sehingga dapat meninggalkan tanda hitam. Terlebih lagi jika bayinya gendut."

Yang tak kalah penting, bahan busananya. Beberapa bayi, terang Rini, sensitif terhadap suatu bahan, biasanya bahan berbulu. Apalagi pada bayi yang di dalam keluarganya ada riwayat alergi. Nah, bahan busana yang paling aman adalah katun. Jikapun tak ada katun, bisa menggunakan bahan kaos yang menyerap keringat. "Jangan pilih bahan kaos yang licin karena terlalu banyak bahan sintetisnya sehingga tak dapat menyerap keringat dengan baik," sarannya.

Kancing depan
Untuk bayi baru lahir, tutur Rini, baju yang memiliki kancing di muka sangat praktis. "Ini berkaitan dengan kepala bayi yang masih lemah." Lain hal setelah bayi usia 3 bulan ke atas, bisa dipakaikan baju model kaos karena kepalanya sudah semakin kuat, sehingga baju bisa melalui kepala.

Baju kodok bisa menjadi pilihan karena praktis. Hanya dengan mengenakan satu baju, bayi dapat langsung memakai celana. Tetapi jangan lupa, ingat Rini, pilih yang bukaan di depan. "Jadi, mengenakannya seperti mengenakan baju biasa ke bayi. Karena kalau pemakaiannya lama, bayi juga akan gelisah duluan sehingga menangis." Anda pun tentunya juga jadi senewen karena bajunya enggak masuk-masuk.

Mudah diganti
Bila Anda ingin mengajak si kecil bepergian, saran Rini, sebaiknya pilih busana yang mudah diganti. Soalnya, saat bepergian kemungkinan terjadi bayi buang air kecil atau besar, dan bahkan muntah. "Jadi, bila model busananya rumit, menggantinya pun akan susah."

Faktor usia saat bayi diajak bepergian pun tak boleh dilupakan. Ketika usia bayi baru 2 minggu, misalnya, biasanya bayi baru bepergian ke dokter untuk kontrol. Nah, agar nyaman, pakaikan popok atau bila pusarnya sudah puput bisa dipakaikan celana. Model baju yang memiliki kancing di muka akan memudahkan pemeriksaan. Setelah baju, biasanya bayi akan dilapisi dengan bedong, baru dimasukkan ke dalam selimut besar.

"Selimut yang memiliki topi untuk menutupi kepala bayi bisa juga menjadi pertimbangan karena sekaligus bisa melindungi kepala bayi," kata Rini. Bayi yang sudah lebih besar biasanya akan mulai diajak bepergian ke berbagai macam tempat. Nah, sesuaikan busana bayi dengan kondisi tempat tujuan.

"Bila ingin diajak ke tempat dingin, baju yang dianjurkan tentunya yang dapat mencegah bayi kedinginan. Misalnya, busana lengan panjang dan celana panjang." Baju hangat juga bisa digunakan; pilih yang terbuat dari rajutan benang untuk mencegah alergi. Bila bepergian ke tempat berudara panas, misalnya, pantai, Rini menganjurkan agar bayi dipakaikan setelan celana pendek dan kaos.

"Kalau mau menggunakan busana tanpa lengan, kita lihat dulu kondisi bayi, apakah dia sering batuk pilek atau tidak," katanya.

Jadi, bila si kecil kondisinya kurang bagus, sebaiknya hindari busana yang terlalu terbuka. "Pakaikan baju yang tertutup namun berbahan tipis karena dia tak tahan dingin dan tak tahan angin. Apalagi di pantai, kan, banyak angin." Sementara baju model tanpa lengan bisa dipakai untuk jalan-jalan ke mal.

*Sumber : kompas.com

Kamis, 21 Oktober 2010

Balita si 1 Tahun: Terlambat Bicara, Tak Perlu Khawatir


Baca artikel dibawah ini, saya jadi tidak khawatir lagi. Karena anak saya, Jonathan belum juga bicara di usia 17bulan.

Setiap anak itu unik, ada yang mahir berjalan dulu, baru belajar bicara. Ada juga yang sebaliknya. Tapi tak jarang ada yang berkembang berbarengan. Justru karena setiap anak unik, dan memperlihatkan ciri yang berbeda, Anda harus cermat dan waspada.

Seperti spons. Di tahun pertamanya, si kecil menyerap semua bunyi bahasa yang didengarnya dari sekitar. Layaknya spons, selama masa bayi hingga tahun kedua, anak-anak dengan cepat menangkap dan bahkan ada yang langsung “mempraktikkan” hasil belajarnya dengan meniru memproduksi bunyi bahasa yang sama.

Namun, tidak semua anak segera memproduksi kata-kata pertama di akhir masa bayi. Bahkan tak semua anak aktif melatih ketrampilan bicara sampai 13 – 14 bulan. Jadi, ada yang mengalami masa praverbal hingga tahun ke dua. Yaitu, masa di mana si kecil menggunakan bahasa lain, selain tutur, untuk berkomunikasi, seperti mimik wajah, bahasa tubuh, atau kerlingan mata.

Sejauh si kecil memberi respons terhadap bahasa verbal Anda, dengan bahasa apa pun meskipun bukan bahasa verbal, hingga akhir tahun kedua atau menjelang usia 2 tahun, Anda tak perlu khawatir. Tapi Anda perlu mencatat dan bahkan berkonsultasi dengan ahli, apabila si kecil tak juga merespons kata-kata Anda meskipun sebatasa anggukan kepala.
Apalagi tanpa kontak mata, jauh sebelum usia 2 tahun seharusnya Anda telah mengenali gejala yang tak biasa ini dan bertanya pada dokter dan psikolog anak.

Corat-coret dan bercerita. Pada anak-anak yang normal dan baru meluncurkan kata-kata pertama di usia 15 bulan, orang tua perlu proaktif memberi si kecil dorongan dan rangsang. Kegiatan literasi awal, seperti membolak-balik halaman buku, corat-coret dengan krayon, atau kegiatan bercerita bisa menjadi langkah pertama yang mudah dilakukan dan tentu menyenangkan. Yang juga penting: beri ia motivasi dan pujilah secara verbal. Jika Anda ingin si kecil pandai bicara, tentu Anda harus jadi modelnya.

Kini bahkan tersedia buku-buku cerita dengan tokoh favorit, seperti
Dora The Explorer, Elmo, Nemo atau Bob The Builder yang memiliki tombol-tombol dan mengeluarkan suara. Bisa jadi, melihat tokoh favoritnya “berbicara” langsung kepadanya ketika ia menekan tombol, ia jadi terdorong untuk merespons secara verbal juga. Perdengarkan juga lagu-lagu anak Indonesia yang menarik dan memberinya wawasan berbahasa yang cukup .

Hal penting yang juga penting Anda lakukan adalah senantiasa berkomunikasi dengannya dengan menatap mata. Kontak mata ini penting untuk memberi si kecil rasa dihargai, merasa aman dan membantu Anda “mendeteksi” kalau-kalau ada yang tidak beres.

Selain
speech delay (terlambat bicara) yang murni karena masalah pada alat bicara, Anda perlu waspadai spektrum autism dan sindroma Asperger yang ditandai dengan penolakan kontak mata. Sudah begini, Anda tak perlu tunggu lagi, berkonsultasilah. Jika ditangani secara tepat sejak dini, tak tertutup kemungkinan si kecil bisa ”mengejar” ketertinggalan dalam perkembangan bahasa dan bicara.

*Sumber : ayahbunda.co.id

Tips Memandikan Bayi


Bagi ibu baru, awalnya mungkin takut memandikanbayi. Namun Anda tidak perlu takut bayi tidak suka mandi, karena selama sembilan bulan di kandungan, ia berenang dalam air ketuban.

Mantapkan hati ketika memandikan bayi. Pegang erat tubuhnya, dan mandikan dia dengan lembut. Berikut langkah-langkah, agar acara memandikan bayi tetap aman dan nyaman bagi bayi:

  • Perlengkapan 'perang'. Siapkan bak mandi, letakkan perlengkapan mandi, seperti sampo, sabun, handuk, di pinggir bak atau di tempat yang mudah dijangkau.
  • Air hangat. Isi bak dengan air hangat bersuhu 29-30 derajat celcius (ukur dengan alat pengukur suhu khusus untuk mandi bayi). Pasang pula baby support, atau penyangga tubuh bayi, di bak mandi untuk memperkecil risiko bayi tergelincir dari tangan Anda.
  • Seka dan sabuni. Seka wajahnya dengan waslap basah, tuang sabun cair two in one, lalu sabuni tubuh bayi mulai dari rambut, leher, badan, tangan dan kaki, serta lipatan-lipatan tubuhnya. Angkat sedikit badan bayi, kemudian sabuni punggungnya.
  • Bilas sampai bersih. Setelah itu, keringkan badan bayi dengan benar, termasuk tali pusatnya. Dandani bayi seperti biasa.

Agar acara mandi bayi makin menyenangkan, ajak bayi 'ngobrol' sambil bernyanyi. Pasti bayi akan semakin senang ritual mandinya.

*Sumber : ayahbunda.co.id

Senin, 18 Oktober 2010

Emergency Guide: UGD


Berikut beberapa tips dari para ahli agar Anda tetap tenang, dapat mengambil keputusan, dan mendapatkan perawatan terbaik saat timbul gejala-gejala yang mengharuskan Anda membawa si kecil ke Unit Gawat Darurat (UGD).


Demam tinggi

Tanda bahaya: Segera bawa anak Anda ke UGD jika ia mengalami demam dan suhu tubuhnya di atas 38°C disertai leher yang kaku, sakit kepala yang amat sangat, muntah dan lemas, karena kondisi ini bisa mengarah pada gejala meningitis. Jika bayi Anda berusia di bawah 6 bulan dan suhu tubuhnya mencapai 39°C atau lebih, segera bawa ke rumah sakit. Hubungi dokter anak jika bayi berusia di bawah 3 bulan mengalami demam dengan suhu tubuh antara 37.8°C - 39°C, atau jika usia bayi lebih dari 6 bulan dan mengalami demam dengan suhu 39°C atau lebih. Anda juga harus segera menghubungi dokter jika anak berusia di bawah 2 tahun mengalami demam hingga lebih dari 24 jam. Begitu pula jika anak berusia di atas 2 tahun dan demamnya bertahan lebih dari 3 hari. Pertolongan pertama: Beri obat penurun panas yang mengandung asetaminofen atau ibuprofen dan beri banyak minum seperti air atau jus buah untuk mencegah dehidrasi. Pakaikan baju yang longar dan tipis agar ia tidak kepanasan. Di rumah sakit: Akan dilakukan pemeriksaan fisik dan mungkin pemeriksaan dengan X-ray pada bagian dada, serta tes urin dan tes darah untuk memeriksa kemungkinan infeksi. Jika dokter mencurigai gejala meningitis, akan dilakukan pemeriksaan khusus spinal tap.

Luka tersayat atau robek
Tanda bahaya: Bagian yang tersayat terus menerus mengeluarkan darah setelah ditekan lebih dari lima menit, terlihat dalam dan menganga, bagian yang luka berada di dekat mata atau pada persendian. Luka menganga pada kulit akibat benda tajam atau gigitan binatang harus selalu diperiksakan ke dokter anak. Si kecil mungkin harus disuntik tetanus. Pertolongan pertama: Guyurkan air pada bagian yang terluka untuk menghilangkan debu dan kotoran yang melekat. Jangan menggosok bagian yang terluka, sebab partikel kotoran bisa semakin masuk ke dalam kulit. Tutup luka dengan kain lembut yang bersih dan tekan perlahan selama beberapa menit untuk menghentikan darah. Lalu lindungi dengan perban yang bersih atau kain kasa. Di rumah sakit: Dokter akan memberikan anestesi lokal pada bagian yang terluka agar dapat dibersihkan dan diberi obat antiseptik. Mungkin dokter akan menjahit luka tersebut atau menutupnya dengan perban.

Sakit perut, muntah, dan diare
Tanda bahaya: Sakit perut yang akut, terutama di perut bagian bawah; muntah yang berwarna hijau atau kekuningan; dehidrasi (termasuk bibir pecah-pecah, mata cekung, pembuluh air mata bengkak, dan susah buang air kecil); ada darah di air seni atau saat buang air besar. Ini bisa jadi gejala usus buntu; keracunan obat/makanan/bahan kimia; masalah pencernaan; atau gejala penyakit serius lainnya. Pertolongan pertama: Untuk mencegah dehidrasi, berikan satu atau dua sendok makan oralit setiap beberapa menit sekali. Jika anak juga mengalami diare, jangan diberi minuman soda atau jus apel karena rasa sakitnya bisa semakin parah. Di rumah sakit: Anak Anda akan menjalani pemeriksaan fisik dan, jika perlu, diberi cairan infus. Dokter mungkin akan menyarankan tes darah dan tes susulan untuk memeriksa kemungkinan usus buntu. Dokter juga akan memberikan obat untuk mengurangi muntah dan diare.

Serangan asma
Tanda bahaya: Anak terlihat sulit bernapas, napasnya berbunyi atau batuk-batuk, susah berbicara, terlihat pucat dan berkeringat. Jika sepuluh menit setelah diberi inhaler kondisinya tidak membaik atau justru semakin parah, segera bawa ke UGD.
Pertolongan pertama: Usahakan agar anak tetap tenang dan atur posisinya agar ia duduk tegak. Berikan seteguk air hangat untuk membantu mengeluarkan dahak. Bawa inhaler-nya dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Hubungi 112 untuk bantuan jika si kecil tidak bisa bernapas; detak jantungnya menjadi sangat cepat (berdebar-debar) atau bibir serta kuku-kukunya membiru; terlihat linglung dan lemah; atau hilang kesadaran. Di rumah sakit: Dokter akan mengukur kadar oksigen di tubuh anak, melakukan rontgen dada, memeriksa kerongkongan dan tes darah. Dokter juga mungkin akan memberi infus dan pengobatan untuk melegakan pernafasan. Jika terjadi serangan asma yang cukup hebat, ada kemungkinan harus diopname.

Retak atau patah tulang
Tanda bahaya: Anak terlihat sangat kesakitan; lengan atau kaki yang terluka terlihat bengkak, membiru atau bengkok; dan anak tidak mau menggerakkan atau menaruh beban pada kaki atau lengannya. Pertolongan pertama: Kompres dengan es batu pada area yang sakit dan posisikan bagian tubuhnya yang sakit itu lebih tinggi dari jantungnya. Lindungi bagian yang terluka atau sakit dengan sepotong karton atau gulungan majalah yang direkatkan dengan selotip. Jangan mencoba meluruskan sendiri tungkai atau lengan yang retak atau patah tersebut. Jangan berikan anak minuman atau makanan karena mungkin saat dirawat di rumah sakit ia harus dibius total. Di rumah sakit: Dokter akan memeriksa bagian tubuh yang sakit dan mungkin serangkaian pemeriksaan lebih lanjut. Bagian yang terluka akan dibalut atau digips. Jika lukanya parah, si kecil mungkin perlu dioperasi.

sumber : parentsindonesia.com

Senin, 11 Oktober 2010

Ajaklah Bayi Keluar Rumah Sesekali


Adaptasi memang diperlukan oleh bayi kecil dalam kehidupan sebuah keluarga. Namun, si kecil yang baru hadir ini pun perlu diajari mengenai bersosialisasi. Tempat pertamanya adalah dalam keluarga. Setahun pertamanya adalah tantangan yang cukup berat baginya untuk mengenal banyak hal dalam waktu singkat. Ada baiknya untuk mengajak bayi berkenalan dengan dunia luar dan orang-orang lain. Ini akan memungkinkannya berkomunikasi dan berinteraksi sejak usia dini.

Menurut dr Suririnah, pengarang Buku Pintar Merawat Bayi 0-12 Bulan, bayi sangat tertarik memerhatikan bayi lain dan suatu ketika dapat berinteraksi dengan bayi lain dengan cara menyentuh atau memukul mereka. Bayi bisa diperkenalkan dengan dunia lain dengan banyak cara. Berikut adalah beberapa pertimbangan untuk mengajak bayi bersosialisasi yang disarankan oleh dr Suririnah:

* Perkenalkan bayi dengan lingkungan sosial sebanyak mungkin. Membawa bayi ke luar bisa membantu Anda dan bayi memperoleh pergantian lingkungan dan variasi kegiatan sehari-hari. Bayi akan menikmati bepergian keluar bersama Anda. Ia jadi bisa menikmati stimulus/rangsangan dari wajah-wajah, suara, dan lingkungan baru yang akan ditemuinya dalam perjalanan.

* Cobalah bergabung dengan perkumpulan ibu-ibu dan bayi mereka. Makin banyak lingkungan sosial yang bisa diperkenalkan kepada bayi, makin baik, karena dunianya akan makin luas.

* Ajak bayi ke kelompok bermain atau ke kolam renang umum. Hal ini memberinya kesempatan untuk berada di kelompok besar. Bayi akan belajar bahwa senyum yang biasa ia lakukan di rumah ternyata akan mendapat respon yang sama ketika di luar rumah. Ia pun belajar bahwa dia memiliki pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

Dr Suririnah mengingatkan agar menjauhkan bayi dari bayi lainnya jika ia sedang merasa kesal, gelisah, atau ada yang sedang sakit. Bayi mudah terkena infeksi, batasi kontak bayi dengan penyakit. Disarankan pula untuk mengajak anak duduk di meja makan saat makan keluarga meski si bayi belum belajar makan makanan padat. Ia akan mendapat kesempatan untuk melihat interaksi di sekelilingnya.

*Sumber : Kompas.com