Senin, 18 April 2011

Balita Perlu Diajarkan 6 Ketrampilan Ini!


Meskipun masih berusia prasekolah (3-6 tahun), anak sudah memiliki kemampuan untuk menolong diri sendiri seperti makan, minum, mengenakan baju, sepatu, dan kaus kaki sendiri. Sayangnya, banyak orangtua dengan beberapa alasan mengabaikan hal ini. "Kapan gemuknya kalau anak makan sendiri? Makannya sedikit, lama, berantakan lagi!"

Padahal, jika ingin mencetak anak unggul, orangtua seharusnya memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk menolong dirinya sendiri. Pasti ada banyak aspek perkembangan yang dapat terasah dengan mengajari anak menolong diri sendiri. Saat mengajari anak makan sendiri, bukan hanya agar ia terampil makan sendiri, tetapi juga melatih motorik halusnya. Begitupun kemampuan berbahasanya, ikut tertempa.

Dengan banyak kemampuan yang dimiliki, kompetensi anak pun terdongkrak karena ia merasa bisa melakukan ini dan itu sendiri, sehingga kepercayaan dirinya meningkat. Karena itu, agar anak tumbuh menjadi sosok unggul, ia wajib diajarkan kemampuan menolong diri sendiri. Sebaliknya, bila ia kelewat dilayani dan dimanjakan, kemandiriannya bisa terhambat. Anak akan menjadi sangat bergantung pada orangtua, pengasuh, dan orang dewasa yang biasa ia jmintai bantuan. Ia tidak akan mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya sendiri.

Berikut ini beberapa hal yang penting dikuasai anak berkaitan dengan rutinitas sehari-harinya, dan cara menstimulasinya:


1. Menalikan sepatu
Perkenalkan dengan sepatu tanpa tali terlebih dahulu berikut kaus kakinya. Contohnya cara mengenakan dan melepaskannya. Setelah itu, minta anak melakukannya sendiri. Kita dapat mengatakan, "Coba pakai sepatunya sendiri." Setelah itu, "Lihat Ibu... satu, dua, tiga. Masuk kakinya ke sepatu." Ingat, jika anak telah mampu melakukannya sendiri, berikan dia reward berupa pelukan, ciuman, dan pujian.


2. BAK/BAB
Pertama yang diajarkan adalah berbicara saat hendak BAB/BAK. Memang agak sulit untuk menyampaikan hal tersebut, sebab kita tidak bisa mengonkretkannya pada anak. Namun, itu dapat disiasati lewat pembiasaan. Misalnya, setiap kali anak buang air kecil atau mengompol, yang umumnya diketahui dari gelagatnya seperti saat tidur anak gelisah, penisnya terlihat membesar, atau saat terjaga anak serta-merta menggerakkan badannya sebentar tanpa rencana. Saat itu, kita dapat membawa anak ke toilet untuk pipis. Lalu secara bertahap, ajari anak BAK/BAB sendiri, mulai membuka atau memelorotkan celana hingga duduk di kloset. Bila lubang kloset terlalu besar, beri tambahan dudukan kloset yang banyak dijual di pasaran.


3. Mengenakan baju dan celana
Pilih yang simpel seperti tanpa kancing atau resleting. Cara mengajarkannya sama dengan mengenakan sepatu. Ajak anak berkomunikasi dan berikan contoh, lalu berikan kesempatan padanya untuk mencoba melakukannya sendiri. Lakukan setiap kali anak selesai mandi, juga setiap dirinya ganti baju. Jika sudah berhasil, tingkatkan dengan baju dan celana atau rok berkancing.


4. Membereskan mainan sendiri
Minta anak membereskan sendiri mainannya ke tempat yang telah ditentukan. Dalam kesempatan ini kita juga dapat mengajarkan memilah mainan yang akan dimainkan. Jadi, anak hanya mengeluarkan mainan tertentu saja yang akan dimainkan. Ingat, kebiasaan jelek anak usia ini adalah mengeluarkan semua mainan dari wadah, padahal cuma satu atau tiga mainan saja yang dimainkan. Dengan pembiasaan seperti itu, anak akan lebih mudah membereskan mainannya.


5. Makan dan minum sendiri
Seiring dengan kemampuan motorik halusnya yang semakin baik, anak usia ini dapat makan sendiri tanpa banyak tumpah. Anak juga dapat memotong-motong sendiri makanan menjadi lebih kecil agar mudah dimakan. Kita hanya perlu mendampingi dan mengarahkan agar kemampuan anak semakin berkembang. Biarkan anak menikmati makanannya tanpa diburu-buru. Sebelum makan, minta anak mencuci dan mengeringkan tangannya sendiri, duduk dengan rapi, dan berdoa sendiri. Kemudian ajari anak etika saat makan seperti tidak mengeluarkan suara saat mengunyah, dan lain-lain. Demikian juga seusai makan, minta anak berdoa, merapikan kursi, dan perlengkapan makannya sendiri.


6. Berkomunikasi
Maksudnya, berani menyapa orang lain, secara asertif menyampaikan gagasan, mengekspresikan emosinya, menawarkan bantuan, dan meminta tolong. Misal, ketika sedang berada di restoran, kita bisa meminta anak untuk mengambilkan menu dan memintanya membayarkan tagihan pada pelayan restoran. Tugas sederhana ini selain melatih keberanian, juga memberinya pengalaman berinteraksi dengan orang lain.


Narasumber: Putri Guenantine, SPsi, konselor Personal Growth, Jakarta

Sumber : Tabloid Nakita/Gazali Solahuddin

Senin, 11 April 2011

Time-Out - Anak sudah bisa disetrap?


Menurut Paula Spencer, seorang pakar pengasuhan anak, disetrap merupakan kesempatan bagi anak untuk belajar mengatasi frustrasi dan memperbaiki perilaku. Waktu tenang selama disetrap akan memberikan anak kesempatan untuk menenangkan diri. Berlaku juga untuk Anda, lho! Anda bisa ambil napas dan mundur sejenak dari ‘peperangan’ dengan anak. Karenanya, setrap atau time-out sangat berguna dalam situasi yang sangat emosional antara anak dan Anda.

Pada usia berapa anak sudah bisa disetrap? Biasanya ketika anak sudah berusia 2 tahun. Sebelumnya, akan sia-sia bagi Anda untuk membuatnya diam di satu tempat selama beberapa waktu tertentu. Jika Anda memaksa, malah jadi kejar-kejaran dan justru anak akan menikmatinya! Dia mungkin berpikir, itulah bentuk permainan baru dari Anda. Sementara itu, anak pun akan lupa kenapa tadi dia disetrap karena rentang perhatian anak masih sangat singkat hingga mudah lupa. Ketika tiba waktunya anak sudah mengerti konsep disetrap, lama waktu disetrap sebaiknya sama dengan usia anak. Misalnya 2 menit untuk anak usia 2 tahun dan seterusnya.

*Sumber : parenting.co.id

Selasa, 15 Maret 2011

8 Aktivitas Bantu Perkembangan Otak Bayi


Bayi menghabiskan hampir waktu terjaganya untuk menendang, melompat, atau mengayunkan lengannya. Bagi orang dewasa, aktivitas ini terlihat seperti gerakan biasa saja, padahal hal itu penting untuk menyadari bahwa bayi tak selalu "cuma bergerak" atau "cuma main-main". Setiap tindakan dan gerakan bayi penting untuk perkembangan bayi dalam hal-hal tertentu. Pergerakan tubuh membantu membentuk jalinan sel saraf dan sambungan pada otak ke seluruh tubuh, mulai dari bayi hingga dewasanya. Berikut adalah gerakan-gerakan yang penting untuk bayi:

1. Ayun-ayun bayi saat dipeluk
Saat si bayi menangis, kebanyakan orangtua secara intuitif akan menggendong sambil mengayunkan si bayi untuk menenangkannya. Anda tahu bahwa gerakan ini kemungkinan bisa menenangkan bayi. Namun, tahukah Anda bahwa gerakan ini juga bisa membantu perkembangan sistem vestibular (sistem gerak dan keseimbangan) anak, sekaligus memberinya ketenangan lewat sentuh, sensasi, serta menenangkan anak. Namun, pergerakan dan sensasi ini juga memicu perkembangan awal otak anak dan persiapan pertumbuhan visualnya. Perhatikan ayunannya juga, jangan terlalu kuat karena si anak bisa mual.

2. Berguling
Pergerakan pertama bayi sifatnya refleksif atau tidak disengaja. Berguling adalah gerakan yang diupayakan dan Anda bisa membantu anak berlatih berguling dengan dorongan sedikit. Saat bayi telentang, duduk di dekat kepalanya, sambil menggenggam mainan di atas kepalanya. Saat Anda sudah mendapatkan perhatian si anak, gerakkan perlahan mainan tersebut ke salah satu sisi tubuh si bayi sambil memberinya dorongan untuk menggapai mainan itu. Jika si bayi berguling, berikan mainan itu padanya. Anda bisa ulangi mainan itu di lain waktu.

3. Tumpukkan
Permainan tumpuk, Anda duduk, bayi berbaring di depan Anda, kakinya disampirkan di kedua paha atas Anda, sambil Anda berinteraksi dengannya, mengimitasi gerakan, saling sentuh, dan tepuk tangan ritmis, bisa memberi kesempatan bayi melihat, merasakan sentuh, serta mendengar suara Anda.

4. "Menyeberang"
Bayangkan tubuh bayi memiliki satu garis lurus dari atas tubuh ke bawah, yang membedakan kiri dan kanan bagian tubuhnya. Saat ia berbaring, coba iming-imingi ia benda yang ia sukai, awali dari bagian depan tubuhnya, lalu pelan, arahkan benda itu ke bagian yang berlawanan dengan tangan yang mencoba menggapai, kalau ia mengulurkan kedua tangannya, tahan salah satu tangannya. Dengan begini ia akan melatih saraf-saraf yang berseberangan antara otak kiri dan kanan. Nantinya, saat bayi mulai merangkak, letakkan benda atau mainan berwarna terang di atasnya supaya ia berusaha menggapai. Lakukan permainan ini selama ia menikmati permainan dengan tertawa.

5. Main air

Saat bayi sudah bisa duduk tanpa dibantu, coba letakkan ia duduk di sebuah ember besar berisi air hangat yang tingginya hanya mencapai pahanya. Jangan lepaskan pandangan Anda darinya. Ajak ia untuk bermain dengan air tersebut, bermain percik air akan membantunya melatih koordinasi tangan dan mata, serta melatih perut bagian atasnya.

6. Latihan berdiri
Membuat anak-anak belajar jalan atau berdiri terlalu cepat bukanlah ide yang bagus. Bayi akan mendapati kemampuan ini saat ia sudah merasa cukup mampu, tetapi mereka memang butuh bantuan dan kesempatan. Sebelum si bayi mendapati ia sudah siap untuk belajar berdiri atau berjalan, pastikan ia punya kesempatan untuk mencoba belajar berdiri sambil berpegangan pada benda-benda kokoh, seperti sofa atau meja yang kokoh. Jika Anda melihat ia mencoba berdiri sambil berpegangan dengan benda-benda yang berbahaya dan tidak kokoh, bantulah ia berdiri dan letakkan ia pada lokasi yang lebih aman. Jangan lupa untuk perhatikan dia, begitu Anda bantu ia berdiri, ada kemungkinan ia butuh bantuan untuk duduk kembali.

7. Latihan berjalan
Pada waktunya bayi akan belajar berjalan menggunakan bantuan furnitur. Saat ia berjalan tanpa bantuan, bayi akan menikmati menarik, mendorong, atau membawa obyek tertentu. Tak hanya aktivitas ini memberi latihan motorik anak, tetapi juga membantu pemahaman sebab-akibat pada anak.

8. Bergerak
Bayi perlu bergerak. Sulit untuk memahami apa dan mengapa alasan dari masing-masing gerakan. Namun, gerakan dibutuhkan oleh bayi untuk melatih motorik dan perkembangan otaknya. Berikan waktu, ruang, dan kesempatan untuk bayi bergerak.

*sumber : kompas.com

Kamis, 17 Februari 2011

Komunikasi Tepat supaya Anak Bersikap Baik


Barusan nemu artikel ini, sepertinya cocok nih untuk diterapkan buat anak saya, Jamie..sulit sekali untuk membuat dia bersikap baik...tapi artikel ini bener banget...enjoy..

Jika Anda ingin si kecil bersikap dengan baik, perhatikan cara Anda mengomunikasikan keinginan Anda itu. Menurut pengarang How to Behave So Your Preschooler Will, Too!, Sal Severe PhD, komunikasi adalah faktor terpenting agar si kecil bisa belajar bersikap dengan baik. Cara Anda mengomunikasikan ekspektasi dan keinginan akan membuat banyak perbedaan.

Bayangkan diri Anda ada di posisi si kecil. Jika ia mendengar suara orangtuanya mengatakan sesuatu dengan nada melengking atau tidak menyenangkan, apakah pesan yang disampaikan bisa dimengerti? Tentu sulit untuk dicerna. Tetapi kadang, dengan nada lembut pun si kecil seakan tidak mau mengerti. Bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak? Dr Severe menyarankan beberapa langkah, antara lain:

Nada positif

Katakan pada si kecil apa yang Anda ingin ia lakukan ketimbang apa yang Anda tak ingin ia lakukan. Misal, "Tolong keringkan air mata kamu," ketimbang, "Jangan cengeng!" atau "Berhenti nangis!" Contoh lainnya, ketimbang mengatakan, "Berhenti mengeluh", katakan, "Mintanya dengan nada sopan, dong." Saat anak Anda mengikuti instruksi Anda, berikan pujian. Ingat untuk memuji sikapnya, bukan anak secara keseluruhan. Jika Anda mengatakan, "Kamu anak yang baik saat kamu main manis sama adik kamu," pesan yang ditangkap anak adalah ia bukan anak baik kalau tidak main manis dengan adiknya. Alih-alih, katakan, "Mama bangga dengan cara kamu berbagi sama adik kamu. Pilihan kamu bagus, Nak."

Rencanakan sikap bagus
Anak-anak perlu tahu ekspektasi yang Anda harapkan darinya sejak dini. Biarkan ia tahu ke mana Anda dan ia akan pergi, apa aturannya, dan apa yang akan terjadi jika ia bersikap baik atau nakal. Jika ia tahu keadaan apa yang akan ia hadapi, ia akan jauh lebih baik dalam mengikuti instruksi Anda.

Jangan lupa untuk membawa tas aktivitas untuk si kecil jika Anda berencana pergi jauh, ke restoran, atau tempat lainnya yang membutuhkan si kecil untuk banyak duduk. Jika Anda membawa mainan atau hal lain yang membuat si kecil sibuk, Anda akan menghindari banyak problem potensial. Menurut dr Severe, barang-barang yang dibawa akan lebih efektif jika barangnya masih baru untuk anak. Jika Anda sempat, berbelanjalah mainan atau buku anak dalam jumlah banyak, dan simpan. Keluarkan satu per satu jika Anda ingin si kecil tenang.

Pesan positif
Anak-anak percaya apa pun yang dikatakan oleh orangtua mereka. Jika Anda mengatakan bahwa si kecil susah belajar mendengarkan, ia akan berlaku seperti itu. Jika Anda katakan bahwa Anda yakin ia bisa belajar mendengarkan dan patuh sama apa kata mama, ia akan berusaha membuktikan Anda benar. Tanamkan ide dalam dirinya bahwa ia bisa melakukan apa yang Anda minta. Mereka akan belajar untuk memenuhi permintaan Anda.

Berikan pujian atas hal-hal bagus yang ia lakukan. Semakin banyak Anda mendorong ia melakukan sikap yang baik, makin ia ingin membuat Anda bangga. Kebanyakan anak ingin melakukan hal-hal yang benar setiap saat. Fokuskan pada hal-hal yang positif dan Anda akan melihat tingkah positif itu lebih sering.

Contohkan

Setiap orangtua pasti ingin anaknya patuh sejak pertama diminta. Tetapi banyak pula orangtua yang mengatakan "Nanti dulu," atau, "Sebentar" atau mendengar si anak bicara tetapi tidak seksama? Jika Anda ingin si kecil menjadi pendengar yang baik, maka contohkan bagaimana menjadi pendengar yang baik. Anda harus mencontohkan hal-hal semacam ini. Sebisa mungkin, setiap kali anak Anda mengajak bicara, berhenti melakukan apa yang sedang Anda lakukan, buat kontak mata dengan si kecil, dan dengarkan sungguh-sungguh apa yang ia katakan. Tak hanya ia akan berlaku sama kepada Anda, hal ini juga akan membangun kepercayaan dirinya, dan membuatnya merasa dihargai.

Putar kembali
Akan membantu untuk Anda belajar mengerti jika Anda memintanya mengatakan kembali apa yang Anda ingin ia lakukan. Contoh, "Kita mau main ke tempat Tante Rina, di sana kamu boleh main di taman belakangnya sama Bella. Tapi, kita cuma setengah jam saja di sana. Kalau Mama panggil kamu untuk pulang, kamu datangi mama, dan kita siap-siap pulang ya? Nah, coba kamu ulangi apa yang mama bilang tadi." Ia akan mencoba mengulang instruksi Anda. Ini akan memastikan si kecil mengerti apa yang diharapkan dari dia.

Harapan yang realistis
Ingat, anak Anda adalah anak-anak. Anak balita atau usia prasekolah butuh banyak waktu Anda untuk diperhatikan. Ingat juga bahwa perubahan akan memakan waktu. Tetap positif dan konsisten dan Anda akan melihat perubahan pada sikap anak.

Belajar untuk berkomunikasi secara efektif dengan si kecil adalah hal krusial untuk meminta si anak melakukan apa yang Anda inginkan. Dengan kesabaran dan praktik, komunikasi Anda akan membaik, begitu pun sikap si anak.


*Sumber : kompas.com




Jumat, 28 Januari 2011

Tips Bermain Pasir dengan Aman


Bermain pasir bisa jadi salah satu permainan yang paling digemari anak. Agar anak bisa bermain dengan nyaman dan aman, simak tips berikut
  • Buatlah kotak pasir dari kayu atau wadah kayu knock down, dengan alas permukaan yang rata. Tingginya maksimal selutut anak saat ia jongkok. Cara lain, buat lubang pada tanah sedalam 10-15 cm. Semakin luas kotak pasir, semakin asyik mainnya.
  • Alasi permukaan kotak pasir dengan landscape fabrics –beli di toko peralatan rumah tangga atau berkebun– sejenis material yang dapat menyerap air namun mencegah hewan kecil atau serangga hidup di dalam kotak pasir.
  • Pada lapisan berikutnya, taburkan pasir khusus –beli di toko mainan anak– yang berlabel "Playsand" atau "Sandbox sand". Selain steril, pasir jenis ini tidak mengandung partikel besar yang dapat tertelan anak, dan tidak menempel di tangan. Jumpah pasir harus cukup banyak untuk dimainkan, tetapi tidak sampai berhamburan keluar kotak pasir.
  • Saat tidak dimainkan, tutup kotak pasir dengan plastik agar tidak disinggahi kucing.

Kapan Minat Baca Anak Bisa Ditumbuhkan?


Membaca memiliki begitu banyak keuntungan bagi perkembangan anak. Tak hanya untuk menambah pengetahuan. Membaca bacaan yang baik bisa melatih otak agar tetap aktif, menjadi lebih analitis, serta membangun sikap serta karakter positif seseorang. Apalagi jika kebiasaan si anak untuk membaca tersebut mulai dikembangkan dengan membaca buku bersama orangtuanya.

Menurut Sani B. Hermawan, Psi, Direktur Lembaga Daya Insani, saat peluncuran buku Juven: Sahabat Sejati di The Cone, FX, Jakarta, beberapa waktu lalu, semakin banyak diajak bercerita, makin banyak manfaat yang digali oleh anak-anak. Beberapa manfaat yang bisa digali oleh anak saat berbagi bercerita adalah:
* Meningkatkan "mental alertness", daya tangkap, kreativitas, dan logika berpikir.
* Meningkatkan wawasan pengetahuan.
* Menanamkan nilai positif, seperti empati, solidaritas, toleransi, dan tolong menolong.
* Membentuk karakter positif.
* Membangun hubungan emosional hangat dengan orangtua (koneksi dengan anak).

Lalu, sejak kapan minat membaca anak bisa ditumbuhkan? Sani mengatakan, "Sejak lahir, anak sudah bisa diajak membaca. Bangun dialog dengan anak sejak lahir dengan cara diajak berkomunikasi dan dibacakan cerita. Anak-anak yang dibacakan cerita dan diajak berkomunikasi bisa memiliki kemampuan verbal yang lebih tinggi dibanding yang didiamkan saja. Bahkan saat anak masih berada dalam kandungan pun bisa diajak berbicara dan dibacakan cerita," jelas Sani lagi.

*Sumber : kompas.com

Rabu, 08 Desember 2010

Tips Bicara dengan Bayi


* Gunakan kata-kata yang positif dan menyenangkan. Bayi bisa membedakan tone pada suara Anda, apakah itu berisi kata-kata positif ataupun negatif. Bicaralah dengan nada yang perlahan dengan menghadapkan wajah Anda ke wajahnya guna mengalihkan hal-hal lain yang bisa membuyarkan konsentrasi.

* Gunakan pula suara-suara yang biasa digunakan ibu-ibu saat bicara dengan bayinya. Ini merupakan bahasa universal. Namun, perhatikan intonasi dan cara bicara Anda, jangan menggunakan kata-kata yang disingkat-singkat atau pelafalan yang seakan dibuat cadel. Ia akan berusaha mengikuti Anda, ia akan bingung saat mendengar kata aslinya.

* Coba bicara dengannya mengenai hal-hal kecil dan keseharian. Misal, "Mama lagi mau pasangkan popok untuk Adik, nih", atau "Adik sudah pintar tepuk tangan, ya?" saat Anda melihat ia menepuk tangan.

* Saat si bayi bertumbuh besar, bicarakan tentang banyak hal kepadanya, "Adik mau pakai celana, nih", atau "Hari ini dingin sekali, ya?"

* Memberi nama pada obyek. Terdengar konyol, tetapi hal ini bisa merangsang komunikasi dengan anak. Anda bisa menamakan benda-benda favoritnya dan masukkan nama tersebut dalam perbincangan Anda. Saat si kecil mulai menunjuk barang-barang kesukaannya, beri tahu apa nama barang tersebut. Misal, saat ia menunjuk bonekanya, Anda bisa bilang, "Iya, Adik minta boneka Teddy-nya?" atau saat ia menunjuk tempat minumnya, katakan, "Adik mau tempat minumnya, ya?" Dengan begini, si kecil akan belajar banyak di tahun pertamanya, terutama mengenai benda-benda dan aktivitas. Ia mungkin akan mulai mengerti kata kerja atau aktivitas pula, seperti "Da-da" atau "Ambil".

* Dorong usaha si kecil agar ia mencoba mengutarakan sesuatu. Hindari keinginan untuk tertawa saat ia melakukan kesalahan karena itu bisa membuatnya enggan berusaha lagi. Ajak si bayi untuk mengutarakan sesuatu.

* Membaca bersama juga merupakan upaya yang bisa Anda lakukan. Mulailah dengan membacakan buku-buku bergambar bersama si bayi. Ini adalah sebuah aktivitas yang amat berharga untuknya memperkaya diksi dalam khazanah berkomunikasinya.

* Di usia 8-12 bulan pertama, bayi akan mulai mencoba bersuara dan mengatakan kata-kata simpel, seperti "Da-da" atau "Mama". Cobalah untuk mulai berbicara langsung padanya, ini amat penting untuk perkembangan ucapannya. Berikan pujian untuk setiap perkembangan yang ia lakukan, bahkan bila si bayi sebenarnya tidak mengerti arti dari kata itu sendiri.

*Sumber : kompas.com